perjalanan hidup yang berliku-liku

Eid Mubarak..

Setelah sebulan menempuh Ramadhan al-Mubarak, menunaikan rukun Islam ketiga...kini dah sampai masanya Ramadhan pergi meninggalkan kita.

Mari bermuhasabah diri...

Sepanjang ramadhan yang dah berlalu...berapa banyak amal ibadat yg kita lakukan untuk jadi bekalan kehidupan akhirat yg kekal selama-lamanya??
Berapa banyak waktu yang kita peruntukkan untuk menyemai benih pohon2 di syurga??
Berapa banyak harta kita kita belanjakan utk infaq/sedekah/di jalan Allah...atau habis kerana shopping baju raya & bazar Ramadhan??
Adakah Ramdhan kali ini benar2 menjadi ibrah(pengajaran) yang bermakna kepada kita..??

Syawal dah mari,
Ramadhan dah pergi..
Alangkah ruginya diri ini,
Masa ku habiskan pada kerja yg tidak memberi apa2 erti..

Selamat Hari Raya Aidil Fitri....TakabalALLAHU minna wa minkum Takabbal ya Kareem...

Ta'aruf dengan 313 ahli Badar..

Ringkasan Perang Badar al-Kubra

Mendengar berita mengenai rencana kedatangan kafilah perdagangan kaum Quraisy dari Syam di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah saw mengajak kaum Muslimin langsung di bawah pimpinannya untuk memintas dan menghalang kafilah tersebut dengan sebab sebagai ganti atas kekayaan mereka yang dirampas oleh sebahagian kaum Musyrikin di Makkah. Anjuran Rasulullah saw ini hanya disahut oleh sebahagian kaum Muslimin kerana sebahagian yang lain menyangka tidak akan terjadinya peperangan.

Di tengah perjalanan menuju Mekkah, Abu Sufyan mendengar bahawa kafilahnya akan dihadang oleh kaum Muslimin. Maka dihantarkannya seorang utusan bernama Dhamdham bin Amir al-Ghiffari ke Mekkah untuk menyampaikan berita kepada kaum Quraisy dan meminta bantuan pasukan untuk menyelamatkan harta kekayaan mereka. Setelah mendengar berita ini, seluruh kaum Quraisy dengan serta merta mempersiapkan diri, bersiap penuh dan berangkat keluar dengan tujuan perang. Tak seorang pun dari tokoh Quraisy yang tertinggal dari keberangkatan pasukan yang berjumlah 1000 orang kecuali Abu Lahab.
Sementara itu, menurut riwayat Ibnu Ishaq, Rasulullah saw keluar bersama 314 sahabatnya pada suatu malam di bulan Ramadhan dengan membawa 70 ekor unta. Setiap unta ditunggangi secara bergantian oleh dua atau tiga orang. Mereka tidak mengetahui akan keberangkatan bala bantuan kaum Quraisy tersebut. Dlam pada itu, kafilah Abu Sufyan telah berhasil meloloskan diri dan menyusuri air mata Badar dengan melalui jalan persisir pantai menuju ke arah Mekkah. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan kafilah dan perniagaannya dari ancaman bahaya.
Setelah mendengar keberangkatan kaum Quraisy, Rasulullah saw segera meminta pandangan dari para sahabatnya. Kaum Muhajirin mendokong dan memandang baik pendirian Baginda. Di antaranya al-Miqdad bin Amir dengan tegas menyatakan: “Ya Rasulullah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah kepada anda. Kami tetap bersama anda.” Tetapi Rasulullah saw terus memandang ke arah mereka dan berkata: “Kemukalah pandangan kalian kepadaku, wahai manusia.” Kemudian Sa’ad bin Mu’adz menjawab: “Demi Allah, nampaknya anda menghendaki ketegasan sikap kami wahai Rasulullah.” Nabi saw menjawab: “Benar!” Sa’ad berkata: “Kami telah beriman kepada anda dan kami pun membenarkan kenabian dan kerasulan anda. Kami juga telah menjadi saksi bahawa apa yang telah anda bawa adalah benar. Atas dasar itu kami telah menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk sentiasa taat dan setia kepada anda. Laksanakanlah apa yang anda kehendaki, kami tetap bersama anda. Demi Allah, seandainya anda menghadapi lautan dan terjun ke dalamnya, kami pasti akan terjun bersama anda.”
Mendengar jawapan Sa’ad itu, Rasulullah saw merasa puas dan senang, kemudian Baginda memerintahkan:
“Berangkatlah dengan hati gembira, kerana sesungguhnya Allah swt telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan. Demi Allah, aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan.”
Setelah itu Rasulullah saw mulai mencari berita tentang pasukan kaum Quraisy melalui para perisik yang disebarkan, sehingga kaum Muslimin mengetahui bahawa mereka berjumlah sekitar 900 ke 1000 orang dan bahawa mereka datang disertai oleh hampir seluruh tokoh kaum Musyrikin.
Sebenarnya Abu Sufyan telah mengirimkan seorang utusan kepada pasukan Musyrikin memberitahukan bahawa kafilahnya telah selamat. Tetapi Abu Jahal tetap berkeras untuk melanjutkan perjalanan, lalu berkata:



300px-Battle_of_Badr

“Demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badar. Di sana kami akan tinggal selama tiga hari, memotong ternak, makann beramai-ramai dan minum arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah seluruh Arab mendengar tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap gentar kepada kita selama-lamanya.”


Kemudian mereka bergerak sampai tiba di pinggir sebelah seberang lembah Badar. Sedangkan Rasulullah saw telah tiba di pinggir lembar seberang lain dengan posisi nyaris berhadapan dengan lawan, dekat mata air Badar. Habbab bin Mundzir bertanya kepada Nabi saw:
“Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerika wahyu dari Allah swt yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan tipu muslihat peperangan?” Rasulullah saw menjawab, “Tempat ini ku pilih berdasarkan pendapat dan tipu muslihat peperangan.” Habbab mengusulkan, “Ya Rasulullah, jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan berpindah ke tempat air yang berdekatan dengan musuh, kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dengan keadaan mempunyai persediaan air minum yang cukup, sedangkan musuh tidak memperoleh air minum.” Rasulullah saw menjawab, “Pendapat mu sungguh baik.”
Rasulullah saw kemudian bergerak dan pindah ke tempat yang diusulkan oleh Habbab ra.
[Ibnu Hisyam di dalam Sirah-nya meriwayatkan hadis Habbab bin Mundzir ini dari Ibnu Ishaq dari orang-orang Bani Salmah. Dengan demikian, apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam ini adalah riwayat dari orang-orang majhul (tidak diketahui). Al-Hafiz Ibnu Hajar menyebutkan hadis ini di dalam al-Ishabah dan diriwayatkan dari Ibnu Ishaq dari Yazid bin Ruman dari ‘Urwah bin Zubair, di dalam kisah Badar. Sanad ini Shahih. Al-Hafiz Ibnu Hajar adalah seorang yang dapat dipercaya (tsiqah) dalam mengutip dan meriwayatkan. Lihat al-Ishabah, 1/302.]
Di samping itu Sa’ad bin Mu’adz mengusulkan supaya dibuatkan kemah untuk Nabi saw sebagai tempat perlindungan dengan harapan supaya bila ada sesuatu dan hal yang tidak diharapkan terjadi, Nabi saw dapat kembali dengan mudah dan selamat kepada kaum Muslimin di Madinah dan agar mereka tidak lemah semangat kerana ketidakberadaan Nabi saw di antara mereka. Usulan ini dipersetujui oleh Nabi saw. Kemudian Rasulullah saw menenangkan jiwa para sahabatnya dengan adanya dukungan dan pertolongan Allah swt, sampai-sampai Rasulullah saw menegaskan kepada mereka: “Di sini tempat kematian si Fulan dan si Fulan (dari kaum Musyrikin)”, seraya meletakkan tapak tangannya di atas tanah. Akhirnya nama-nama yang disebutkan Nabi saw itu ternyata benar bergelimpangan tepat di tempat yang telah ditunjukkan itu. [ Diriwayatkan oleh Muslim, 6/170. ]
Selanjutnya Rasulullah saw dengan khusyuk memanjatkan doa kepada Allah swt pada malam Jumaat tanggal 17 Ramadhan. Di antara doa yang diucapkan adalah:
“Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang datang dengan segala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadali. Ya Allah, kalahkan mereka esok hari.”
Beliau terus memanjatkan doa kepada Allah swt dengan merendahkan diri dan khusyuk seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit, sehingga kerana merasa iba Abu Bakar berusaha menenangkan hati Nabi saw dan berkata kepadanya: “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepadamu.”
Demikian pula kaum Muslimin, mereka ikut berdoa kepada Allah swt memohon pertolongan dengan penuh ikhlas dan merendah diri di hadapan-Nya. [ Ibnu Hisyam 1/205, Zadul Ma’ad 2/87 dan hadis istighatsah Rasulullah saw kepada Allah swt di dalam perang Badar adalah Muttafaq ‘alaih. ]
Pada suatu pagi Jumaat, tahun kedua Hijrah, mulailah pertempuran antar
a kaum Musyrikin dan kaum Muslimin. Memulai pertarungan ini, Rasulullah saw mengambil segenggam kerikil kemudian dilemparkan kea rah kaum Quraisy seraya berkata: “Hancurlah wajah-wajah mereka”, kemudian meniupkannya ke arah mereka sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Selain itu, Allah swt juga mendokong kaum Muslimin dengan mengirim bala bantuan malaikat. [ Hadis tentang dokongan Allah swt kepada kaum Muslimin dengan mengirimkan malaikan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. ]
Akhirnya peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan suatu kemenangan yang besar. Dari pihak kaum Musyrikin, terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang. Sedangkan dari pihak kaum Muslimin gugur menggapai syahid 14 orang.
Mayat-mayat kaum Musyrikin yang terbunuh dalam peperangan ini –termasuk para tokoh mereka- dilemparkan ke dalam sumur tua di Badar. Ketika mayat-mayat itu dilemparkan ke dalamnya, Rasulullah saw berdiri di mulut perigi itu seraya berkata memanggil nama-nama mereka berikut nama bapak-bapaknya:
“Wahai Fulan bin Fulan! Wahai Fulan bin Fulan! Apakah kalian telah berbahagia kerana kalian telah menaati Allah swt dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami telah menerima kebenaran janji Allah swt yang diberikan kepada kami; apakah kalian juga telah menyaksikan kebenaran janji Allah swt kepada kalian?”
Mendengar ini Umar ra bertanya: “Ya Rasulullah, kenapa anda mengajak bicara jasad yang sudah tidak bernyawa?” Beliau menjawab:
“Demi Dzat yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar perkataanku daripada mereka.” [ Bukhari 5/8, Muslim seperti 8/163. ]
Kemudian Rasulullah saw meminta pendapat para sahabatnya berkenaan dengan masalah tawanan. Abu Bakar ra mengusulkan supaya Nabi saw membebaskannya dengan cara mengambil tebusan dari mereka sehingga harta tebusan itu diharapkan menjadi pasak kekuatan material bagi kaum Muslimin, disertai harapan mudah-mudahan Allah swt menunjuki mereka. Sementara Umar bin Khattab ra mengusulkan supaya mereka dibunuh saja, kerana mereka adalah tokoh dan kepala kekafiran. Tetapi Nabi saw cenderung kepada pendapat dan usulan Abu Bakar yang member belas kasihan kepada mereka dan mengambil tebusan. Akhirnya pendapat ini dilaksanakan oleh Nabi saw. Tetapi beberapa ayat al-Quran kemudian diturunkan menegur kebijaksanaan Nabi saw tersebut, mendokong pendapat Umar.
Firman Allah swt yang bermaksud: “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi” sampai kepada ayat yang bermaksud “Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu.” (al-Anfal [8]: 67-69) [ Shahih Muslim, 5/157-158 ]


 



Top of Form

Senarai 313 Ahli Perang Badar

 
Rasulullah s.a.w telah bersabda yang bermaksud:
“Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman tanganNYA, pada hari ini tidak ada seorang pun yang memerangi mereka dengan sabar, mengharap redha ALLAH, dan maju tanpa mundur melainkan ALLAH memasukkannya ke dalam syurga."
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam al-Maufiri, berikut adalah senarai Ahli Badar:-

(Kaum Muhajirin) 1. Rasulullah, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim,
2. Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim (Singa Allah),
3. Ali bin Abi Talib bin Abdul Muthallib bin Hasyim,
4. Zaid bin Harithah bin Syurahbill bin Kaab bin Abdul Uzza bin Umrul Qais al-Kalbi,
5. Anasah (bekas hamba Rasulullah s.a.w),
6. Abi Kabsyah (bekas hamba Rasulullah s.a.w),
7. Abi Martsad Kannaz bin Hishn bin Yarbuu’ bin Amr bin Yarbu’ bin Kharsyah bin Saad bin Tharif bin Jillan bin Ghanm bin Ghani bin Ya’shur bin Saad bin Qais bin Ailan,
8. Martsad bin Abu Martsad (Kannaz),
9. Ubaidah bin al-Harits bin al-Muthalib,
10. at- Tufail bin al-Harits,
11. al-Hushain bin al-Harits,
12. Misthat atau Auf bin Utsatsah bin Abbad bin al-Muuthalib,
13. Uthman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umaiyyah bin Abdu Syams,
14. Mihsyam atau Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams,
15. Salim (bekas hamba Abu Hudzaifah),
16. Abdullah bin Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mur bin Shabrah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad,
17. ‘Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan bin Qais bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad,
18. Syuja’ bin Wahb bin Rabi’ah bin Asad bin Shuhaib bin Malik bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad,
19. ‘Uqbah bin Wahb,
20. Yazid bin Ruqaisy bin Ri’ab bin Ya’mur bin Shabrah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad,
21. Abi Sinan bin Mihshan bin Hurtsan bin Qais,
22. Sinan bin Abi Sinan,
23. Muhriz bin Nadhlah bin Abdullah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad,
24. Rabi’ah bin Aktam bin Sakhbarah bin ‘Amr bin Lukaiz, bin Amir bin Ghanm bin Dudan bin Asad,
25. Tsaqfu bin ‘Amr,
26. Malik bin ‘Amr,
27. Mudlij bin ‘Amr,
28. Abi Makhsyi,
29. ‘Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahb bin Nusaib bin Malik bin al-Harits bin Mazin bin Manshur bin ‘Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin ‘Ailan,
30. Khabbab
31. Az-Zubair bin al-‘Awwam bin Khuwailid bin Asad,
32. Hathib bin Abi Balta’ah,
33. Sa’ad,
34. Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Abdu ad-Daar bin Qushai,
35. Shuwaibith bin Sa’ad bin Huraimalah bin Malik bin ‘Umailah bin as-Sabbaq bin Abdul ad-Daar bin Qushai,
36. Abdul Rahman bin ‘Auf bin Abdu ‘Auf bin Abdul Harits bin Zuhrah,
37. Sa’ad bin Abi Waqqash/ Malik bin Uhaib bin Abdul Manaf bin Zuhrah,
38. ‘Umair bin Abi Waqqash,
39. Al-Miqdad bin ‘Amr bin Tha’labah bin Malik bin Rabi’ah bin Tsumamah bin Mathrud bin Amr bin Sa’ad bin Zuhair bin Tsaur bin Tsa’labah bin Malik bin as-Syarid bin Hazl bin Qa’isy bin Dueaim bin al-Qain bin Ahwad bin Bahra’ bin ‘Amr bin al-Haf bin Qudha’ah,
40. Abdullah bin Mas’ud bin al-Harits bin Syamkhu bin Mahkzum bin Shahilah bin Kahil bin al-Harits bin Tamim bin Sa’ad bin Hudzail,
41. Mas’ud bin Rabi’ah bin ‘Amr bin Sa’ad bin Abdul ‘Uzza bin Hamalah bin Ghalib bin Muhallim bin’A’idzah bin Subay’i bin al-Hun bin Khuzaimah,
42. Dzu as-Syamalain bin Abdu ‘Amr bin Nadhlah bin Ghubsyan bin Sulaim bin Malkkan bin Afsha bin Haritsah bin ‘Amr bin Amir,
43. Khabbab bin al-Arat,
44. Abu Bakar as-Siddiq, Atiq bin Uthman bin ‘Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim,
45. Bilal bin Rabah,
46. ‘Amir bin Fuhairah,
47. Shuhaib bin Sinan,
48. Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Uthman bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim,
49. Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum,
50. Syammas bin Uthman bin as-Syarid bin Suwaid bin Harmi bin ‘Amir bin Makhzum,
51. al-Arqam bin Abi al-Arqam / Abdul Manaf bin Asad,
52. ‘Ammar bin Yasir,
53. Mu’attib bin ‘Auf bin ‘Amir bin al-Fadhl bin Afif bin Kulaib bin Hubsyiyah bin Salul bin Ka’ab bin ‘Amr,
54. Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurthu bin Razah bin ‘Adiy,
55. Zaid bin Khattab,
56. Mihja’,
57. ‘Amr bin Suraqah bin al-Mu’tamir bin Anas bin Adat bin Abdullah bin Qurthu bin Riyah bin Rizah bin ‘Adiy bin Ka’ab,
58. Abdullah bin Suraqah,
59. Waqid bin Abdullah bin Abdul Manaf bin ‘Arin bin Tsa’labah bin Yarbu’ bin Handzalah bin Malik bin Zaid bin Manat bin Tamim,
60. Khauli bin Abi Khauli,
61. Malik bin Abi Khauli,
62. ‘Amir bin Rabi’ah,
63. ‘Amir bin al-Bukair bin Abdul Yalail bin Nasyib bin Ghiyarah,
64. ‘Aqil bin al-Bukair,
65. Khalid bin al-Bukair,
66. Iyas bin al-Bukair,
67. Sa’id bin Zaid bin “amr bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Abdullah bin Qurthu bin Riyah bin Rizah bin ‘Adiy bin Ka’ab,
68. Uthman bin Madz’un bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah,
69. as-Sa’ib bin Uthman,
70. Qudamah bin Madz’un,
71. Abdullah bin Madz’un,
72. Ma’mar bin al-Harits bin Ma’mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah,
73. Khunais bin Judzafah bin Qais bin ‘Adiy bin Sa’id bin Sahm,
74. Abi Sabrah bn Abi Ruhm bin Abdul ‘Uzza bin Abi Qais bin Abdul Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl,
75. Abdullah bin Mahkhramah bin Abdul ‘Uzza bin Abi Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik,
76. Abdullah bin Suhail bin ‘Amr bin Abdu Syams bin Abdul Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl,
77. ‘Umair bin ‘Auf,
78. Sa’ad bin Khaulah,
79. Abu ‘Ubaidah/ ‘Amir bin Abdullah bin al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin al-Harits,
80. ‘Amr bin al-Harits bin Zuhair bin Abi Syaddad bin Rabi’ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin al-Harits,
81. Suhail bin Wahb bin Rabi’ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin al-Harits,
82. Shafwan bin Wahb,
83. ‘Amr bin Abi Sarh bin Rabi’ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin al-Harits,

(Kaum Ansar)
84. Sa’ad bin Mu’adz bin an-Nu’man bin Umrul Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal,
85. ‘Amr bin Mu’adz bin an-Nu’man,
86. al-Harits bin Aus bin Mu’adz bin an-Nu’man,
87. al-Harist bin Anas bin Rafi’ bin Umru’ul Qais,
88. Sa’ad bin Zaid bin Malik bin ‘Ubaid,
89. Salamah bin Salamah bin Waqash bin Zughbah bin Za’ura,
90. Abbad bin Bisyr bin Waqasy bin Zughbah bin Za’ura,
91. Salamah bin Tsabit bin Waqasy,
92. Rafi’ bin Yazid bin Kurs bin Sakan bin Za’ura,
93. al-Harits bin Khazamah bin ‘Adiy bin Ubai bin Ghanm bin Salim bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf bin al-Khazraj,
94. Muhammad bin Maslamah bin Khalid bin ‘Adiy bin Majda’ah bin Haritsah bin al-Harits,
95. Salamah bin Aslam bin Harisy bin ‘Adiy bin Majda’ah bin Haritsah bin al-Harits,
96. Abu al-Haitsam bin at-Taiyahan,
97. Ubaid bin Taiyahan,
98. Abdullah bin Sahl,
99. Qatadah bin Nu’man bin Zaid bin ‘Amir bin Sawad,
100. Ubaid bin Aus bin Malik bin Sawad,
101. Nashr bin al-Harits bin ‘Abd,
102. Mu’attiib bin ‘Abd,
103. Abdullah bin Thariq,
104. Mas’ud bin Sa’ad bin ‘Amir bin ‘Adiy bin Jusyam bin Majda’ah bin Haritsah,
105. Abu ‘Absu bin Jabr bin ‘Amr bin Zaid bin Jusyam bin Majda’ah bin Haritsah,
106. Abu Burdah bin Niyar,
107. ‘Ashim bin Tsabit bin Qais bin Ishmah bin Malik bin Amah bin Dhubai’ah,
108. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail bin Zaid bin al-Aththaf bin Dzubbai’ah,
109. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid bin al-Aththaf bin Dhubai’ah,
110. ‘Amr bin Ma’bad bin al-Az’ar bin Zaid bin al-Athtaf bin Dhubai’ah,
111. Shal bin Hunaif bin Wahb bin al-Ukaim bin Tsa’labah bin Majda’ah bin al-Harits bin ‘Amr,
112. Mubasysyir bin Abdul Mundzir bin Zanbar bin Zaid bin Umaiyyah,
113. Rifa’ah bin Abdul Mundzir bin Zanbar,
114. Sa’ad bin Ubaid bin an-Nu’man bin Qais bin ‘Amr bin Zaid bin Umaiyyah,
115. ‘Uwaim bin Sa’idah,
116. Rafi’ bin ‘Unjadah,
117. ‘Ubaid bin Abu ‘Ubaid,
118. Tsa’labah bin Hathib,
119. Abi Lubabah bin Abdul Mundzir,
120. al-Harits bin Hathib,
121. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah bin Khalid bin al-Harits bin ‘Ubaid,
122. Ma’nu bin ‘Adi bin al-Jaddi bin al-‘Ajlan bin Dhubai’ah,
123. Tsabit bin Aqram bin Tsa’labah bin ‘Adiy bin al-‘Ajlan,
124. Abdullah bin Salamah bin Malik bin al-Harits bin ‘Adiy bin al-‘Ajlan,
125. Zaid bin Ashlam bin Tsa’labah bin ‘Adiy bin al-‘Ajlan,
126. Rab’iy bin Rafi’ bin Zaid bin Haritsah bin al-Jaddi bin al-‘Ajlan,
127. ‘Ashim bin ‘Adiy bin al-Jaddi bin al-‘Ajlan,
128. Abdullah bin Jubair bin an-Nu’man bin Umaiyyah bin al-Burak,
129. ‘Ashim bin Qais bin Tsabit bin an-Nu’man bin Umaiyyah bin Umru’ul Qais bin Tsa’labah,
130. Abu Dhayyah bin Tsabit bin an-Nu’man bin Umaiyyah bin Umru’ul Qais bin Tsa’labah,
131. Abu Hannah,
132. Salim bin ‘Umair bin Tsabit bin an-Nu’man bin Umaiyyah bin Umru’ul Qais bin Tsa’labah,
133. al-Harits bin an-Nu’man bin Umaiyyah bin Umru’ul Qais bin Tsa’labah,
134. Khawwath bin Jubair bin an-Nu’man,
135. Mundzir bin Muhammad bin ‘Uqbah bin Uhaihah bin al-Julah bin al-Harisy bin Jahjaba bin Kulfah,
136. Abu ‘Aqil bin Abdullah bin Tsa’labah bin Baihan bin ‘Amir bin al-Harits bin Malik bin ‘Amir bin Unaif bin Jusyam bin Abdullah bin Taim bin ‘Irasy bin ‘Amr bin ‘Umailah bin Qasmil,
137. Sa’ad bin Khaitsamah bin al-Harits bin Malik bin Ka’ab bin an-Nahhath bin Ka’ab bin Haritsah bin Ghanm,
138. Mindzir bin Qudamah bin ‘Arfajah,
139. Malik bin Qudamah bin ‘Arfajah,
140. al-Harits bin ‘Arfajah,
141. Tamim,
142. Jabr bin ‘Atik bin al-Harits bin qais bin Haisyah bin al-Harits bin Umaiyyah bin Mua’wiyyah,
143. Malik bin Numailah,
144. an-Nu’man bin ‘Ashar,
145. Kharijah bin Zaid bin Abii Zuhair bin Malik bin Umru’ul Qais,
146. Sa’ad bin Rabi’ bin ‘Amr bin Abi Zuhair bin Malik Bin Umru’ul Qais,
147. Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah bin Umru’ul Qais bin ‘Amr bin Umru’ul Qais,
148. Khallad bin Suwaid bin Tsa’labah bin ‘Amr bin Haritsah bin Umru’ul Qais,
149. Basyir bin Sa’ad bin Tsa’labah bin Khilas bin Zaid,
150. Simak bin Sa’ad,
151. Subay’i bin Qais bin ‘Aisyah bin Umaiyyah bin Malik bin ‘Amir bin ‘Adiy,
152. ‘Abbad bin Qais bin ‘Aisyah,
153. Abdullah bin ‘Absu,
154. Yazid bin al-Harits bin Qais bin Malikk bin Ahmar,
155. Khubaib bin Isaf bin ‘Itabah bin ‘Amr bin Khadij bin ‘Amir bin Jusyam,
156. Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah bin Abdu Rabbih bin Zaid,
157. Huraits bin Zaid bin Tsa’labah,
158. Sufyan bin Basyir,
159. Tamim bin Ya’ar bin Qais bin ‘Adiy bin Umaiyyah bin Jidarah,
160. Abdullah bin Umair,
161. Zaid bin al-Muzayyin bin Qais bin ‘Adi bin Umaiyyah bin Jidarah,
162. Abdullah bin ‘Urfuthah bin ‘Adiy bin Umaiyyah bin Jidarah,
163. Abdullah bin Rabi’ bin Qais bin ‘Amr bin ‘Abbad bin al-Abjar,
164. Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin Malik bin al-Harits bin ’Ubaid,
165. ‘Aus bin Khauli bin Abdullah bin al-Harits bin ‘baid,
166. Zaid bin Wadi’ah bin ‘Amr bin Qais bin Jaz’i,
167. ‘Uqbah bin Wahb bin Kaladah,
168. Rifa’ah bin ‘Amr bin Zaid bin Tsa’labah bin Malik bin Salim bin Ghanm,
169. ‘Amir bin Salamah bin ‘Amir,
170. Abu Humaidhah bin Ma’bad bin ‘Abbad bin Qusyair bin al-Muqaddam bin Salim bin Ghanm,
171. ‘Amir bin Bukair,
172. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah bin Malik bin al-‘Ajlan,
173. ‘Ubadah bin as-Shamit bin Qais bin Ashram,
174. Aus bin as-Samit,
175. an-Nu’man bin Malik bin Tsa’labah bin Da’du,
176. Tsabit bin Hazzal bin ‘Amr bin Qaryusy,
177. Malik bin ad-Dukhsyum bin Mardhakhah,
178. Rabi’ bin Iyas bin Amr bin Ghanm bin Umaiyyah bin Laudzan,
179. Waraqah bin Iyas,
180. ‘Amr bin Iyas,
181. al-Mujadzdzar bin Dziyad bin ‘Amr bin Zumzumah bin ‘Amr bin ‘Umarah bin Malik bin Ghushainah bin ‘Amr bin Butairah bin Masynuwwi bin Qasr bin Taim bin Irasy bin ‘Amir bin Ilhaf bin Qudha’ah,
182. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy bin ‘Amr bin Zumzumah,
183. Nahhab bin Tsa’labah bin Khazamah bin Ashram bin ‘Amr bin ‘Ammarah,
184. Abdullah bin Tsa’labah bin Khazamah bin Ashram,
185. ‘Uthbah bin Rabi’ah binKhalid bin Mu’awiyyah,
186. Abu Dujanah Simak bin Kharasyah,
187. al-Mundzir bin ‘Amr bin Khunais bin Haritsah bin Laudzan bin Abdu Wudd bin Zaid bin Tsa’labah,
188. Abu ‘Usaid bin Malik bin Rabi’ah bin al-Badiyyi,
189. Malik bin Mas’ud,
190. Abdu Rabbih bin Haq bin Aus bin Waqasy bin Tsa’labah,
191. Ka’ab bin Himar bin Tsa’labah,
192. Dhamrah bin ‘Amr,
193. Ziyad bin ‘amr,
194. Basbas bin ‘Amr,
195. Abdullah bin ‘Amir,
196. Khiras bin as-Shimmah bin ‘Amr bin al-Jamuh bin Zaid bin Haram,
197. al-Hubab bin al-Mundzir bin al-Jamuh bin Zaid bin Haram,
198. ‘Umair bin al-Humam bin al-Jamuh bin Zaid bin Haram,
199. Tamim (bekas hamba Khirasy bin as-Shimmah),
200. Abdullah bin ‘Amr bin Haram bin Tsa’labah bin Haram,
201. Muadz bin ‘Amr bin al-Jamuh,
202. Muawwidz bin ‘Amr bin al-Jamuh bin Zaid bin Haram,
203. Khallad bin ‘Amr bin al-Jamuh bin Zaid bin Haram,
204. ‘Utbah bin ‘Amir bin Nabi bin Zaid bin Haram,
205. Habib bin Aswad (Bekas hamba Bani Haram),
206. Tsabit bin Tsa’labah bin Zaid bin al-Harits bin Haram bin Tsa’labah,
207. ‘Umair bin al-Harits bin Tsa’labah bin al-Harits bin Haram,
208. Bisyr bin al-Barra’ bin Ma’rur bin Shakhr bin Malik bin Khansa’,
209. at-Thufail bin Malik bin Khansa’,
210. at-Thufail bin an-Nu’man bin Khansa’,
211. Sinan bin Shaifi bin Sakhr bin Khansa’,
212. Abdullah bin al-Jadd bin Qais bin Shakhr bin Khansa’,
213. ‘Utbah bin Abdullah bin Sakhr bin Khansa’,
214. Jabbar bin Shakhr bin Umaiyyah bin Khansa’,
215. Kharijah bin Humaiyir,
216. Abdullah bin Humaiyir,
217. Yazid bin al-Mundzir bin Sarh bin Khunas,
218. Ma’qil bin al-Mundzir bin Sarh bin Khunas,
219. Abdullah bin an-Nu’man bin Baldamah,
220. ad-Dhahhak bin Haritsah bin Zaid bin Tsa’labah bin ‘Ubaid bin ‘Adiy,
221. Sawad bin Zuraiq bin Tsa’labah bin ‘Ubaid bin ‘Adiy,
222. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram bin Rabi’ah bin ‘Adiy bin Ghhanm bin Ka’ab bin Salimah,
223. Abdullah bin Qais bin Shakhr bin Haram bin Rabi’ah bin ‘Adi bin Ghanm,
224. Abdullah bin Abdul Manaf bin an-Nu’man,
225. Jabir bin Abdullah bin Ri’ab bin an-Nu’man,
226. Khulaidah bin Qais bin an-Nu’man,
227. an-Nu’man bin Sinan (bekas hamba Bani Nu’man),
228. Yazid bin ‘Amir bin Hadidah (Abu al-Mundzir),
229. Sulaim bin ‘Amr bin Hadidah,
230. Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah,
231. ‘Antarah (bekkas hamba Sulaim bin ‘Amr),
232. ‘Absu bin ‘Amir bin ‘Adiy,
233. Tsa’labah bin Ghanamah bin ‘Adiy,
234. Abu al-Yasar atau Ka’ab bin ‘Amr bin ‘Abbad bin ‘Amr bin Ghanm bin Sawad,
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qain bin Ka’ab bin Sawad,
236. ‘Amr bin Thalq bin Zaid bin Umaiyyah bin Sinan bin Ka’ab bin Ghanm,
237. Mu’adz bin Jabal bin ‘Amr bin Aus bin ‘A’idz bin ‘Adiy bin Ka’ab bin ‘Adi bin ‘Udaiyyi bin Sa’ad bin ‘Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam bin al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa’labah bin ‘Amr bin ‘Amir,
238. Qais bin Mihshan bin Khalid bin Mukhallad,
239. Abi Khalid atau al-Harits bin Qais bin Khalid bin Mukhallad,
240. Jubair bin Iyas bin Khalid bin Mukhallad,
241. Abu ‘Ubadah atau Sa’ad bin Uthman bin Khaladah bin Mukhallad,
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah bin Mukhallad,
243. Dzakwan bin Abdu Qais bin Khaladah bin Mukhallad,
244. Mas’ud bin Khaladah bin ‘Amir bin Mukhallad,
245. ‘Abbad bin Qais bin ‘Amir bin Khalid,
246. As’ad bin Yazid bin al-Fakih bin Zaid bin Khaladah,
247. al-Fakih bin Bisyr bin al-Fakih bin Zaid bin Khaladah,
248. Mu’adz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah,
249. ‘A’idz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah,
250. Mas’ud bin Sa’ad bin Qais bin Khaladah,
251. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-‘Ajlan,
252. Khallad bin Rafi’ bin Malik bin ‘Ajlan,
253. ‘Ubaid bin Zaid bin ‘Amir bin al-‘Ajlan,
254. Ziyad bin Lubaid bin Tsa’labah bin Sinan bin ‘Amir bin ‘Adiy bin Umaiyyah bin Baydhah,
255. Farwah bin ‘Amr bin Wazfah bin ‘Ubaid bin ‘Amir bin Baydhah,
256. Khalid bin Qais bin Malik bin al-‘Ajlan bin ‘Amir bin Baydhah,
257. Rujailah bin Tsa’labah bin Khalid bin Tsa’labah bin ‘Amir bin Bayadhah,
258. ‘Athiyyah bin Nuwairah bin ‘Amir bin ‘Athiyyah bin ‘Amir bin Bayadhah,
259. Khulaifah bin ‘Adiy bin ‘Amr bin Malik bin ‘Amir bin Fuhairah bbin Bayadhah,
260. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Laudzan bin Haritsah bin ‘Adiy bin Zaid bin Tsa’labah bin Zaid Manat bin Habib,
261. Abi Ayyub Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah,
262. Tsabit bin Khalid bin an-Nu’man bin Khansa’ bin ‘Usairah,
263. ‘Umarah bin Hazm bin zaid bin Laudzan bin ‘Amr,
264. Suraqah bbiin Ka’ab bin Abdul ‘Uzza bin Ghaziyyah bin ‘Amr,
265. Haritsah bin an-Nu’man bin Zaid bin ‘Ubaid,
266. Sulaim bin Qais bin Qahdu bin Qais bin ‘Ubaid,
267. Suhail bin Rafi’ bin Abi ‘Amr bin ‘A’idz,
268. ‘Adiy bin Abu az-Zaghba’,
269. Mas’ud bin Aus bin Zaid,
270. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid bin Ashram bin Zaid,
271. Rafi’ bin al-Harits bin Sawad bin Zaid,
272. ‘Auf bin al-Harits bin Rifa’ah bin Sawad,
273. Mu’awwidz bin al-Harits bin Rifa’ah bin Sawad,
274. Mu’adz bin al-Harits bin Rifa’ah bin Sawad,
275. an-Nu’man bin ‘Amr bin Rifa’ah bin Sawad,
276. ‘Amir bin Mukhallad bin al-Harits bin Sawad,
277. Abdullah bin Qais bin Khalid bin Khaladah bin al-Harits bin Sawad,
278. ‘Ushaimah,
279. Wadi’ah bin ‘Amr,
280. Tsabit bin ‘Amr bin Zaid bin ‘Adiy bin Sawad,
281. Abu al-Hamra’ (bekas hamba al-Harits),
282. Tsa’labah bin ‘Amr bin Mihshan bin ‘Amr bin ‘Atik,
283. Sahl bin ‘Atik bin ‘Amr bin Nu’man bin ‘Atik,
284. al-Harits bin as-Shimmah bin ‘Amr bin ‘atik,
285. Ubai bin Ka’ab bin Qais,
286. Anas bin Mu’adz bin Anas bin Qais,
287. Aus bin Tsabit bin al-Mundzir bin Haram bin ‘Amr bin Zaid Manat bin ‘Adiy,
288. Abu Syeikh Ubai bin Tsabit bin al-Mundzir bin Haram bin ‘Amr bin Zaid Manat bin ‘Adiy,
289. Abi Thalhah atau Zaid bin Sahl bin al-Aswad bin Haram bin ‘Amr bin Zaid Manat bin ‘Adiy,
290. Haritsah bin Suraqah bin al-Harits bin ‘Adiy bin Malik bin ‘Adiy bin ‘Amir,
291. ‘Amr bin Tsa’labah bin Wahb bin ‘Adiy bin Malik bin ‘Adiy bin ‘Amir,
292. Salith bin Qais bin ‘Amr bin ‘Atik bin Malik bin ‘Adiy bin ‘Amir,
293. Abi Salith atau ‘Usairah bin ‘Amr,
294. ‘Amr Abi Kharijah bin Qais bin Malik bin ‘Adiy bin ‘Amir,
295. Tsabit bin Khansa bin ‘Amr Malik bin ‘Adiy bin ‘Amir,
296. Muhriz bin ‘Amir bin Malik bin ‘Adiy bin ‘Amir,
297. Sawad bin Ghaziyyah bin Uhaib,
298. Abi Zaid bin Qais bin Sakan bin Qais bin Za’ura bin Haram,
299. Abi al-‘Awar bin al-Harits bin Dzalim bin Absu bin Haram,
300. Sulaim bin Milhan/ Malik bin Khalid bin Zaid bin Haram,
301. Haram bin Milhan,
302. Qais bin Abi Sha’sha’ah / ‘Amr bin Zaid bin ‘Auf,
303. Abdullah bin Ka’ab bin ‘Amr bin ‘Auf,
304. ‘Ushaimah,
305. Abu Daud ‘Umair bin ‘Amir bin Malik bin Khansa’,
306. Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa’,
307. Qais bin Mukhallad bin Tsa’labah bin Shakhr bin Habib bin al-Harits bin Tsa’labah,
308. an-Nu’man bin Abdu ‘Amr bin Mas’ud,
309. Dhahhak bin Abdu Amr bin Mas’ud,
310. Sulaim bin al-Harits bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Haritsah bin Dinar,
311. Jabir bin Khalid bin Abdul Asyhal bin Haritsah,,
312. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal,
313. Ka’ab bin Zaid bin Qais,
314. Bujair bin Abi Bujair,

Kaum Muhajirin terdiri daripada lapan puluh tiga (83) orang.
Kaum Ansar dari kaum Aus seramai enam puluh satu (61) orang.
Kaum Ansar dari kaum Khazraj seramai seratus tujuh puluh (170) orang.


Kenali Hazrat Abu Ubaidah Al-Jarrah


(MASJID MAQAM HAZRAT ABU UBAIDAH,,,,fikirman besar)

(inilah maqam hazrat ABU UBAIDAH,10 org di jamin syurga)
 
(bersama kawan dr yarmok di depan maqom)

Nama sebenarnya Amir bin Abdullah bin Al Jarrah bin Hilal Al Fihri Al Quraisy. Terkenal dengan nama Abu Ubaidah Al Jarrah. Beliau lahir di Mekah dari sebuah keluarga Quraisy yang terhormat. Keluarganya dari kalangan pedangang Arab. Beliau termasuk orang yang awal masuk Islam, selepas Abu Bakar as Siddiq.

Beliau salah seorang sahabat yang dijamin masuk Syurga. Berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, selalu merendah diri dan amat pemalu. Kerana itu beliau disenangi oleh mereka yang mengenalinya.

Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam. Kehebatannya dapat kita ketahui melalui sabda Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”

Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra lahir di Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah yang dijuluki dengan nama Abu Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan, beliau disenangi oleh semua orang yang melihatnya, siapa yang mengikutinya akan merasa tenang.

Abu Ubaidah termasuk orang yang masuk Islam dari sejak awal, beliau memeluk Islam selang sehari setelah Saidina Abu Bakar as-Shiddiq ra memeluk Islam. Beliau masuk Islam bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Uthman bin Maz’un dan Arqam bin Abu al-Arqam, di tangan Abu Bakar as-Shiddiq. Saidina Abu Bakarlah yang membawakan mereka menemui Rasulullah s.a.w. untuk menyatakan dua kalimah syahadat di hadapan Baginda.

Kehidupan beliau tidak jauh berbeza dengan kebanyakan sahabat lainnya, diisi dengan pengorbanan dan perjuangan menegakkan Agama Islam. Hal itu tampak ketika beliau harus hijrah ke Ethiopia pada gelombang kedua demi menyelamatkan aqidahnya. Namun kemudian beliau balik kembali untuk menyertai perjuangan Rasulullah s.a.w..

Abu Ubaidah sempat mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah s.a.w.. Beliaulah yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang Uhud. Dalam perang Badar Abu Ubaidah al Jarrah cuba mengelak dari bertembung dengan ayahnya yang berada dalam pasukan Quraisy yang menentang Rasulullah s.a.w..

Tetapi ayahnya telah bersumpah hendak membunuh anaknya sendiri kerana menjadi pengikut Muhamad. Abdullah terus memburu anaknya hingga suatu ketika dalam peperangan Uhud Abu Ubaidah al Jarrah terpaksa berdepan dengan ayah sendiri. Dalam pertarungan itu Abu Ubaidah al Jarrah terpaksa membunuh ayahnya. Beliau berasa amat sedih sehingga turun ayat Al-Quran surah Al Mujadalah ayat 22.

Sifat Mulia
Ketika dalam peperangan Uhud, tatkala pasukan muslimin kucar kacir dan banyak yang lari meninggalkan medan pertempuran, Abu Ubaidah berlari untuk mendapatkan Nabinya tanpa takut sedikit pun terhadap pihak lawan dan rintangan. Apabila didapati pipi Nabi terluka, iaitu terhujamnya dua rantai besi penutup kepala beliau, segera ia berusaha untuk mencabut rantai tersebut dari pipi Nabi S.A.W..

Abu Ubaidah mulai mencabut rantai tersebut dengan gigitan giginya. Rantai itu pun akhirnya terlepas dari pipi Rasulullah s.a.w.. Namun bersamaan dengan itu pula gigi seri Abu Ubaidah ikut terlepas dari tempatnya. Abu Ubaidah tidak putus asa. Diulanginya sekali lagi untuk mengigit rantai besi satunya yang masih menancap dipipi Rasulullah s.a.w. hingga terlepas. Dan kali ini pun harus juga diikuti dengan lepasnya gigi Abu Ubaidah sehingga dua gigi depan sahabat ini rongak kerananya. Sungguh, satu keberanian dan pengorbanan yang tak ternilai.

Dalam riwayat yang lain Abu Ubaidah mencabut anak panah yang terkena pada rahang Baginda s.a.w.

Rasulullah s.a.w. memberinya gelaran “Gagah dan Jujur”. Suatu ketika datang sebuah delegasi dari kaum Kristian menemui Rasulullah s.a.w.. Mereka mengatakan, “Ya Abul Qassim! Kirimkanlah bersama kami seorang sahabatmu yang engkau percayai untuk menyelesaikan perkara kebendaan yang sedang kami pertengkarkan, kerana kaum muslimin di pandangan kami adalah orang yang disenangi.” Rasulullah s.a.w. bersabda kepada mereka, “Datanglah ke sini petang nanti, saya akan kirimkan bersama kamu seorang yang gagah dan jujur.”

Dalam kaitan ini, Saidina Umar bin Al-Khattab ra mengatakan, “Saya berangkat tergesa-gesa untuk menunaikan solat Zohor, sama sekali bukan kerana ingin ditunjuk sebagai delegasi. Setelah Rasulullah selesai mengimami solat Zohor bersama kami, beliau melihat ke kiri dan ke kanan. Saya sengaja meninggikan kepala saya agar beliau melihat saya, namun beliau masih terus membalik-balik pandangannya kepada kami. Akhirnya beliau melihat Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu beliau memanggilnya sambil bersabda, ‘Pergilah bersama mereka, selesaikanlah kes yang menjadi perselisihan di antara mereka dengan adil.’ Lalu Abu Ubaidah pun berangkat bersama mereka.”

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah al Jarrah.”

Dalam hadis yang lain Rasulullah s.a.w. bersabda lagi.
“Tiap-tiap umat ada orang yang memegang amanah. Dan pemegang amanah umat ini ialah Abu Ubaidah al Jarrah.”

Beliau juga seorang yang zuhud, tidak tamak kuasa dan harta. Di bawah pemerintahan khalifah Umar al Khattab, Abu Ubaidah al Jarrah dilantik menjadi ketua pasukan tentera Islam bagi menakluk kota-kota besar yang berada di bawah pemerintahan Rom seperti Kota Damsyik, Syria, Syam, Kota Aleppo, Kota Hims, Kota Antakiah dan Kota al Quds di Baitul Maqdis.

Ketika khalifah Umar al Khattab berkunjung ke Baitul Maqdis, beliau singgah di rumah Abu Ubaidah al Jarrah. Dilihatnya yang ada dalam rumah ketua panglima Islam itu hanyalah pedang, perisai dan pelana kuda sahaja. Lalu Saidina Umar bertanya kepadanya:

“Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebagaimana orang lain mengambilnya?” Tanya Umar al Khattab.

“Wahai Amirul Mukminin, ini saja sudah cukup bagiku,” jawab Abu Ubaidah al Jarrah.

Saidina Umar al Khattab melantik Abu Ubaidah al-Jarrah memimpin tentera Islam bagi merebut kembali kawasan tanah Arab yang dijajah oleh kerajaan Rom. Beliau berjaya dalam tugas yang diberikan itu sehingga berjaya menakluk Baitul Maqdis.

Sepeninggalan Rasulullah s.a.w., Umar bin Al-Khattab ra mengatakan kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah di hari Tsaqifah, “Hulurkan tanganmu! Agar saya baiat kamu, kerana saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Sungguh dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah.’ Lalu Abu Ubaidah menjawab: Saya tidak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah s.a.w. menjadi imam kita di waktu solat (iaitu Saidina Abu Bakar as-Shiddiq ra), oleh sebab itu kita patut menjadikannya imam sepeninggalan Rasulullah s.a.w.:.

Peperangan Yang Disertai.
Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra ikut serta dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu memperolehi kemenangan besar dalam setiap peperangan tersebut. Beliau berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah beliau berjaya menakluk semua negeri tersebut.

Ketika wabak penyakit Taun bermaharajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Al-Khattab ra mengirim surat untuk memanggil kembali Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi,

“Hai Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu kamu memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di tengah-tengah tentera Muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah bebaskan saya dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini.”
Setelah Umar ra membaca surat itu, beliau menangis, sehingga para hadirin bertanya, “Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?” Umar menjawabnya, “Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu.”

Sepeninggalan Abu Ubaidah ra, Saidina Muaz bin Jabal ra berpidatu di hadapan kaum Muslimin yang berbunyi, “Hai sekalian kaum Muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari beliau. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kamu akan dikasihani Allah.”

Menjelang kematian Abu Ubaidah ra, beliau berpesan kepada tenteranya, Sebelum meninggal dunia Abu Ubaidah al Jarrah sempat berpesan kepada tenteranya, “Dirikanlah solat, tunaikanlah zakat, puasalah di bulan Ramadhan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah. Berilah nasihat kepada pimpinan kamu, jangan menipu, jangan terpesona dengan harta dunia. Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian untuk setiap manusia, kerana itu semua manusia pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat.”. Assalamualaikum”.

Kemudian beliau melihat kepada Muaz bin Jabal ra dan mengatakan, “Ya Muaz! Imamilah solat mereka.” Setelah itu, Abu Ubaidah ra pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Setelah Abu Ubaidah al Jarrah meninggal dunia, Muaz bin Jabal mengambil alih tempatnya lalu berucap di hadapan orang ramai.

“Wahai sekalian kaum Muslimin! Kamu sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kamu akan dikasihani Allah.”


Kematiannya
Abu Ubaidah al Jarrah meninggal dunia pada tahun 18 Hijrah di Urdun dalam wilayah Syam, kerana diserang penyakit taun. Jenazahnya dikebumikan di kawasan yang pernah dibebaskannya daripada kekuasaan Rom dan Parsi. Ketika itu beliau berumur 58 tahun. Beliau di kebumikan di Urdun (Jordan).


Semoga kita semua mencontohi para sahabat ra.....azam tuan-tuan syahid untuk agama ALLAH Taala macam para sahabat ra....buka syahid kejar DUNIA !!! (",)

“KERANA SATU KLIK MALAPETAKA BERTERUSAN DITERIMA HINGGA HARI KIAMAT

“KERANA SATU KLIK MALAPETAKA BERTERUSAN DITERIMA HINGGA HARI KIAMAT

Di zaman ICT dan Globalisasi ini kemudahan komputer dan email hampir ada pada setiap orang yang bekerja di sektor swasta juga kerajaan termasuk kepada pelajar-pelajar di kolej dan universiti. Kemudahan internet yang disediakan dengan kadar yang semakin munasabah menyebabkan kemudahan email ini menjadi semakin popular.Pernahkah kita terfikir dengan satu “KLIK” sahaja akan menyebabkan mencurah-curah dosa yang di terima secara berterusan hingga hari kiamat.

Apa yang penulis akan bincangkan adalah berdasarkan dua buah Hadis Sahih berikut.

Mahfumnya::

Ibnu Mas’ud r.a. berkata: Bersabda Nabi s.a.w. : “Tiada suatu jiwa yang terbunuh dengan penganiayaan, melainkan putera Adam yang pertama dahulu itu mendapat bahagian dari penumpahan darah itu, kerana ia yang pertama membuka jalan untuk penumpahan darah.”(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Yang dimaksudkan di dalam hadis ini adalah kisah pembunuhan Qabil terhadap Habil kerana Qabil dengki terhadap Habil yang berkahwin dengan kembarnya yang lebih cantik.

Mahfumnya:

Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang mengajak kejalan hidayat, maka baginya dari pahala seperti pahala (sebanyak pahala)pengikutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan sesiapa yang mengajak ke jalan sesat, maka menanggung dosa sebanyak dosa-dosa pengikutnya, dengan tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun.

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Bagi memudahkan kefahaman akan maksud hadis-hadis di atas dan berkaitan dengan konteks kehidupan kita pada zaman ICT ini, mari kita ambil iktibar dari kisah berikut. Zack baharu tamat belajar di sebuah universiti kemudian di terima bekerja di sebuah syarikat ICT. Setiap pekerja dibekalkan dengan komputer, alamat email dan internet akses bagi memudahkan urusan kerja seharian.Zack mempunyai ramai kawan dan mereka berhubung melalui email setiap hari. Masa lapang Zack diisi dengan melayari laman web lucah. Kegemarannya ialah memuat turun (download) gambar-gambar lucah itu kemudian berkongsi dengan kawan-kawannya melalui email. Dia mempunyai “email group” dan ada 50 alamat email kawan-kawannya di dalam “emailgroup” tersebut.

Sekali menghantar email, dia akan menghantar kepada “emailgroup” tersebut.Selain daripada itu dia juga suka menghantar semula email yang diterima daripada rakan yang lain ke “emailgroup”. Di antara kandungan email itu adalah kisah-kisah yang mengaibkan seseorang seperti video klip bercium di dalam lif, kisah seluar dalam yang dijumpai di dalam periuk di restoran mamak dan seumpamanya lagi yang kebanyakannya adalah perkara-perkara yang nafsu kita seronok membacanya dan melihatnya tetapi hukumnya adalah jelas haram di sisi syariat Islam.

Pada suatu hari ketika pulang dari tempat kerja Zack terlibat dengan kemalangan jalan raya dan kembali kerahmatullah di tempat kejadian.

Di dalam Islam telah sepakat ulama’ bahawa hukum melihat gambar-gambar lucah, menyebarkan fitnah, membuka aib dan seumpamanya adalah haram serta berdosa kepada mereka yang melakukannya dan menyebarkannya.Untuk memudahkan kefahaman, katakan Zack telah mendapat satu dosa kerana menghantar gambar-gambar lucah kepada kawan-kawannya. Gambar tersebut diterima oleh 50 orang kawan-kawannya melalui email. Kesemua kawan-kawannya seronok dengan gambar tersebut dan meredai perbuatan Zack maka setiap kawannya mendapat satu dosa manakala dosa setiap kawannya itu juga diberikan kepada Zack jadilah sekarang dosa Zack 1+50 = 51.Setiap kawan-kawan Zack itu pula menghantar gambar tersebut kepada 10 orang lagi,maka sekarang dosa Zack akan bertambah lagi menjadi 1+50+500=551 dosa. Kemudian setiap sepuluh orang itu menghantar lagi kepada 10 orang yang lain, bertambahlah dosa Zack menjadi 1+50+500=5551. Begitulah seterusnya.

Zack telah meninggal dunia, email nya masih lagi tersebar, maka akan berterusanlah dia mendapat dosa selagi email itu berlegar di ruang cyber hingga hari kiamat. Begitulah iktibar yang boleh diambil daripada apa yang berlaku kepada Qabil, setiap jiwa yang mati dibunuh kerana hasad dengki manusia, maka dosa membunuh itu akan juga sampai kepada Qabil hingga hari kiamat. Bayangkanlah berapa ramaikah jiwa yang telah

kena bunuh dengan zalim sejak dari zaman nabi Adam hingga sekarang? Dan berapakah dosa yang terpaksa ditanggung oleh Qabil di akhirat kelak?

Berbalik kepada kisah Zack, katakan sebelum meninggal dunia, Zack telah sempat bertaubat, insya’Allah dosa manusia terus dengan Allah, seperti meninggalkan puasa, zakat dan solat fardu akan Allah ampunkan tetapi dosa kita sesama manusia hanya Allah akan ampunkan bila insan tersebut mengampunkan kita. Zack telah menyebarkan perkara

yang menyebabkan orang lain berdosa, bagaimanakah dia nak mintak ampun dengan semua yang menerima email tersebut? Selagi mereka semua tidak mengampunkan Zack maka selagi itulah dia akan terima dosa hingga kiamat kelak.

Inilah malapetaka yang sangat besar pada zaman ICT ini. Dengan sekali klik sahaja saham dosa akan mencurah-curah sampai kepada kita. Sebab itu setiap kali apabila kita menerima email, hendaklah berhati-hati, jika kandungan email itu adalah gambar lucah atau yang mengaibkan seseorang muslim lain atau sesuatu fitnah hendaklah segera dibuang dan jangan ada sedetik pun didalam hati untuk seronok dengan benda yang haram bagi mengelakkan kita dan pengirim dari berdosa.

Yang sebaiknya jika yang diterima itu haram, nasihatkanlah pengirim supaya bertaubat dan berhati-hati di masa-masa akan datang.

Sebaliknya jika kita menyebarkan perkara-perkara yang baik dan diredai oleh Allah SWT yang pastinya ganjaran pahala yang di terima pasti mencurah-curah selagi ia masih terus di sebarkan.

Wallahhu’alam

Sumber: tranungkite.net

Membongkar Kesesatan Wahabi Dalam Memahami Ayat Mutasyabihat

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha mengasihani. Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad, kaum keluarganya serta para sahabat dan sekalian yang mengikuti mereka itu hingga hari Qiamah.

Di antara isu yang ditimbulkan oleh pengikut-pengikut pelampau dan pemberontak kerajaan Islam Othmani Turki di Mekah (golongan ini bersekongkol dengan kuffar British dan menimbulkan banyak masalah terhadap kaum muslimin) iaitu golongan Wahhabiyyah adalah berkisar tentang ayat ‘Mutasyabihat’.

Dua pendapat golongan ‘Salaf’
Di zaman salafussoleh tidak dibahaskan dengan begitu mendalam kerana disuruh beriman dengan ayat ‘Mutasyabihat’ dan hanya diserahkan maksudnya kepada Allah Taala, cuma terdapat satu golongan minoriti di kalangan mereka itu yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Kesimpulannya bahawa terdapat dua golongan para salaf iaitu golongan yang menyerahkan bulat-bulat maksud atau pengertian ayat ‘Mutasyabihat’ itu kepada Allah, manakala satu golongan pula menafsirkannya seperti Ibnu Abbas, murid beliau iaitu Mujahid, Imam Ahmad B. Hambal dll.

Perbezaan dua golongan ini adalah berpunca daripada perbezaan pendapat pada ‘Wakaf’ (berhenti bacaan) pada surah Aali ‘Imran; 7

وما يعلم تأويله الا الله والرّاسخون في العلم …

Yang bermaksud: “ Dan tidaklah mengetahuinya (ayat ‘Mutasyabihat itu) melainkan Allah dan mereka yang teguh keilmuannya…”

Perbezaan dua golongan itu adalah pada ayat: “Dan mereka yang teguh keilmuannya”. Golongan yang menyatakan bahawa mereka yang teguh keilmuannya boleh menafsirkan ayat tersebut bahawa ianya turutan pada kalimah ‘Allah’, membawa maksud bahawa Allah dan mereka yang teguh keilmuannya yang mengetahui hakikat maksud sebenar penafsiran ayat “Mutasyabihat’. Kerana itu, golongan ini mengharuskan bagi orang mantap keilmuannya menafsirkan ayat ‘Mutasyabihat’. Golongan yang menyerahkan bulat-bulat tafsiran ayat ‘Mutasyabihat’ kepada Allah (tidak kepada yang lain) menyatakan bahawa lafaz: ‘dan mereka yang teguh keilmuannya’ adalah permulaan percakapan (subjek baharu) yang tidak ada sangkutan atau turutan bagi kalimah ‘Allah’ sebelumnya. Membawa maksud ayat di atas bahawa hanya Allah sahaja yang mengetahui hakikat pengertian ayat ‘Mutasyabihat’.

Puak Wahhabiyyah menyimpang daripada ‘Salaf’Belainan dengan kefahaman puak-puak ekstrim Wahhabiyyah, di mana mereka berpegang dengan maksud zahir ayat ‘Mutasyabihat’ serta menyerahkan cara kelakuannya kepada Allah Taala. Contohnya ayat yang bermaksud: “Tangan Allah mengatasi tangan-tangan mereka”. Allah mempunyai ‘Tangan’ yang tidak seperti tangan kita, tangan bakul atau kerusi dan sebagainya daripada sekalian mahkluk. Ini membawa kepada Allah mempunyai juzuk yang dinamakan ‘tangan’ di mana kelakuan/rupa ‘tanganNya’ adalah yang layak bagiNya. Sedangkan para salaf menyatakan lafaz ‘Tangan’ adalah merupakan satu sifat (bukannya satu juzuk zat) yang lain daripada sifat Qudrat, Iradat dll dan hanya Allah sahaja yang tahu tafsiran lafaz ‘Yad/Tangan’ tersebut. Maka para salaf yang menyerahkan maksudnya kepada Allah, melarang menafsirkan ‘Tangan’ dan sebagainya kerana membawa kepada menggugurkan (Ta’til Sifat) atau menafikan antara sifat-sifat Allah. Bagi golongan Wahhabiyyah pula, lafaz ‘Tangan’ itu kembali kepada ‘Zat’ Allah Taala yang tidak menyerupai tangan-tangan mahkluk iaitu salah satu anggota zat makhluk. Justeru, mereka tergolong daripada golongan ‘Mujassimah’ yang sesat.

Imam Hanafi termasuk dalam golongan ‘Salaf’ pernah menyatakan tentang kenyataan ini:
“..ولكن يده صفته بلا كيف”
Ertinya: “ …Akan tetapi ‘TanganNya’(lafaz ‘Yad/Tangan’Nya) itu adalah ‘SifatNya’ tanpa kelakuan kaifiat.”

Definisi ‘Zat’ adalah suatu perkara yang tidak berada pada sesuatu (zat) yang lain, manakala ‘Sifat’ pula adalah suatu perkara yang ada pada sesuatu ‘Zat’ tersebut seperti sifat ‘Manis’ yang ada pada zat gula.

Zat Allah mempunyai sifat-sifat kesempurnaanNya yang tidak terhingga. Sifat 20 seperti wujud, qidam, baqa, qudrat, iradat, ilmu dll adalah sifat yang diwajibkan ke atas setiap mukallaf mengetahuinya secara detail/terperinci dan merupakan di antara sifat-sifat kesempurnaan Allah Taala.


Allah Bertempat Di atas ‘Arasyh’??
Di antara perkara yang diungkitkan oleh golongan ‘Mujassimah’ atau suku sakat pemberontak ini juga, ialah tentang Allah berada atau duduk atas ‘Arasyh’. Ijmak para salaf menafikan Allah Taala bertempat samada di langit atau atas ‘Arasyh’ atau di mana-mana. Lebih-lebih teramat keji lagi, ada segelintir mereka yang mengatakan ‘Allah duduk bersila dengan elok di atas ‘Arasyh’. Tiada seorang salaf membenarkan perkataan sebegitu kerana lafaz ‘Istiwa/bersemayan’ bukannya makna’ bersila’ dalam bahasa Arab, bahkan bersila itu ialah التَّرَبُّعُ .

Saidina Ali berkata:                                              
وكان الله ولا مكان وهو الآن على ما عليه كان رواه أبو منصور البغدادي

Erti: “ Adalah Allah dan tiada tempat (bagiNya) dan Dia sekarang atas apa yang adalah Dia (yakni sekarang juga Dia tidak bertempat).” Riwayat Abu Mansur AlBaghdadi.

Imam Hanafi menyatakan dalam ‘Fiqh Absath’:
كان الله تعالى ولا مكان كان قبل أن يخلق الخلق كان ولم يكن أين..

Erti: “Adanya Allah Taala dan tiada tempat. Adanya Dia sebelum Dia mencipta makhluk. Adanya Dia dan langsung tiada ‘Aina’(tempat).”

Imam Hanafi menghuraikan dalam ‘Wasiah’:
وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج فلو كان محتاجا لما قدر على ايجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين ولو كان في مكان محتاجا الى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله؟؟
Erti: “ Dialah (Allah) yang menjaga ‘Arasyh’ dan lain daripada ‘Arasyh’ tanpa berhajat/memerlukan (‘Arasyh’). Jika diandaikan Dia berhajat, nescaya Dia tiada mampu untuk mencipta dan mentadbirkan alam semesta sama seperti sekalian mahkluk. Jika diandaikan (pula) Dia berhajat kepada ‘duduk’ dan ‘tetap’ (atas ‘Arasyh’) maka sebelum dijadikan ‘Arasyh’, dimanakah adanya Allah??

Imam Hanafi iaitu Ulama Salaf ini menafikan bahawa Allah bertempat serta menerangkan bahawa hadis ‘Jariah/hamba perempuan’ yang menunjuk ke atas langit ketika ditanya oleh Nabi saw: Dimana Allah?, adalah membawa maksud bahawa kiblat doa itu diangkatkan tangan ke langit, berbunyi:
وإنه تعالى يدعى من أعلى لا من أسفل لأن الأسفل ليس من وصف الربوبية والألوهية في شيء وعليه ما روي في الحديث: ” أن رجلا أتي الى النبي صلى الله عليه وسلم بأمة سوداء فقال وجب عليّ عتق رقبة مؤمنة أفتجزيني هذه؟ فقال لها النبي صلى الله وسلم أمؤمنة أنت؟ قالت نعم فقال النبي أين الله؟ فأشارت إلى السماء فقال أعتقها فإنها مؤمنة.” فمن قال لا أعرف ربي أفي السماء أم في الأرض فهو كافر كذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض

Ertinya: “ Sesungguhnya Allah Taala dipohonkan doa daripada pihak atas, tidak pihak bawah. Ini kerana pihak bawah ini adalah tiada patut pun sama sekali daripada sifat ketuhanan. Di atas inilah (Allah Taala dipohonkan doa daripada pihak atas) diriwayatkan dalam sebuah hadis, berbunyi: “ Bahawa seorang lelaki datang kepada Nabi saw dengan membawa seorang hamba berkulit hitam, seraya berkata: Telah wajib ke atasku memerdekakan hamba yang mukminah. Adakah memadai ini hamba? Kemudian Nabi saw bertanya kepada hamba itu: Adakah engkau seorang mukminah (beriman)? Hamba itu menyahut: Ya! Nabi bertanya: Dimanakah Allah? Lantas hamba tersebut mengisyaratkan tangannya kelangit. Nabi bersabda kepada lelaki itu: Engkau merdekakan hamba ini kerana dia seorang mukminah.”
Maka sesiapa yang berkata: “Aku tidak tahu adakah tuhanku di langit ataupun di bumi.” Maka dia adalah seorang kafir. Demikian juga (jadi kafir) seseorang yang berkata: “Dia (Allah) atas ‘Arasyh’ dan aku tidak tahu adakah ‘Arasyh’ di atas langit ataupun di bumi.”

Keterangan
Kenyataan Imam Hanafi yang agung di sini dan sebelumnya merupakan hujah yang nyata bahawa Allah Taada tiada bertempat. Juga, memberitahu bahawa ‘Hadis Jariah’ (hamba perempuan yang berkulit hitam) yang mengisyaratkan tangannya kelangit itu apabila ditanyakan oleh Nabi tentang dimananya Allah adalah bermaksud bahawa pihak langit itu ialah kiblat berdoa, bukannya Allah berada di langit.
Kenyataan ini juga menerangkan bahawa sesiapa yang syak/ragu bahawa Allah tidak bertempat maka dia adalah seorang kafir/murtad. Begitu juga, menjadi kafir mereka yang berkata Allah Taala berada di atas ‘Arasyh’ walaupun dia tidak yakin di manakah tempat ‘Arasyh’ tersebut, adakah di langit atau di bumi. Ini kerana seseorang yang berkata perkataan sedemikian menyabitkan bagi Allah, tempat yang seumpama makhluk. Inilah sebagaimana yang disyarahkan oleh Syeikh Ahmad Bin Husain tentang kenyataan Imam Agung tersebut, m/s 168:
(كذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض) لاستلزامه القول باختصاصه تعالى بالجهة والحيز والنقص الصريح في شأنه سيما في القول بالكون في الأرض ونفي العلو عنه تعالى بل نفي ذات الإله المنزّه عن التحيز ومشابهة الأشياء

Ertinya: “ (Kata Imam Hanafi: Demikian juga (jadi kafir) seseorang yang berkata: “Dia (Allah) atas ‘Arasyh’ dan aku tidak tahu adakah ‘Arasyh’ di atas langit ataupun di bumi) Ini kerana perkataan ini membawa kepada menentukan Allah Taala pada sesuatu pihak, mengambil ruang dan membawa kepada kekurangan yang jelas pada keadaan diriNya, lebih-lebih lagi pada perkataan yang menyabitkan Dia berada di bumi dan menafikan ketinggian (pangkat/martabat) daripada Allah Taala, bahkan menafikan zat Tuhan Yang Maha Suci daripada mengambil ruang/pihak dan menafikan seumpama dengan segala sesuatu makhluk.”

Tetapi perlu diambil perhatian, jika seseorang yang berkata bahawa Allah berada/bertempat di atas Arasyh dan pihak ‘atas’ yang layak bagiNya sedangkan dia menafikan ‘atas’ seperti makhluk, maka dia adalah seorang ahli bidaah dan tidak menjadi kafir.

Kesimpulan yang perlu diketahui ialah golongan para salaf menyifatkan Allah sebagaimana yang Allah sifatkan dirinya melalui ayat-ayat ‘Mutasyabihat’ dan mengembalikan hakikat maksud ayat tersebut (contohnya seperti makna sifat ‘istiwaa’) kepada Allah, bukannya berpegang kepada zahir ayat, kemudian menyabitkan bagiNya ‘tempat’ yang merupakan sifat-sifat kelaziman/kemestian bagi mahkluk.

Takwil batil dan ‘tajsim’ daripada golongan Wahhabiyyah
Golongan pemberontak ini mengutuk habis-habisan dan mengkufurkan siapa sahaja yang mentakwil/menafsirkan ayat atau hadis ‘Mutasyabihat’ tetapi pada suatu ketika mereka sendiri mentakwilkannya dengan secara batil dan ‘tajsim’ (menjadikan Allah Taala berjuzuk).

Di sini kami datangkan perkataan Al-‘Usthaimin (antara kepala Wahhabi dan beliau murid kepada mufti wahhabi Mekah: Bazz) dalam kitab ‘Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah’, m/s 25-26:
ونؤمن بأن لله تعالى يدين كريمتين عظيمتين : بل بداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء…
ونؤمن نأن لله تعالى عينين اثنين حقيقتين لقوله تعالى واصنع الفلك بأعيننا ووحينا …
وأجمع أهل السنة على أن العينين اثنين ويؤيده قول النبي صلى الله عليه وسلم على الدجال : إنه أعور وإن ربكم ليس بأعور.

Erti: “ Kami beriman dengan bahawa bagi Allah Taala mempunyai dua tangan yang mulia dan agung, firmanNya, bermaksud: “Bahkan kedua tanganNya dihamparkan, Dia menafkah sebagaimana yang dikehendakiNya.”…..
Kami beriman dengan bahawa bagi Allah mempunyai dua mata yang hakikat sebenar kerana berdalil dengan firmanNya Taala : “Dan buatlah wahai Nuh! Kapal itu dengan mata-mata kami dan dengan wahyu/pertunjuk kami.”…..
Ijmak Ahli Sunnah bahawa dua mata Allah itu adalah dua, dikuatkan oleh sabda Nabi saw tentang ‘Dajjal’, bermaksud: “ Sesungguhnya dia (Dajjal) buta mata sebelah dan bahawasanya Tuhan kamu tidaklah buta mata sebelah.”….

Penjelasan
Al-‘Usthaimin menyatakan bahawa Allah Taala mempunyai dua tangan dan dua mata sedangkan hakikat maksud ‘Dua Tangan dan Mata’ itu diserahkan pengertiannya kepada Allah, bukannya menyabitkan dua (berbilang atau berjuzuk) ada pada Allah. Ini kerana dua adalah bilangan yang tidak layak ada pada zatNya (bukan zatNya berjuzuk) atau pada satu sifat yang sejenis (perlu ingat bahawa lafaz ‘Tangan’ adalah sifat bagi Allah) iaitu seperti tidak boleh dikatakan bagiNya ada dua sifat qudrat, dua iradat dan sebagainya. Penafian tersebut adalah kerana Allah Taala bersifat dengan esa pada zat dan sifat serta perbuatan.

Imam Hanafi berkata dalam ‘Fiqh Akbar’:
والله واحد لا من طريق العدد ولكن من طريق أنه لاشريك له لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد لا جسم ولا غرض ولاحد له ….
Erti: “ Allah adalah Esa, bukannya daripada rupa berbilang, akan tetapi daripada rupa bahawa Dia tiada sebarang sekutu bagiNya, tidak beranak dan tidak diperanakan, tidak ada suatu pun yang setara denganNya, tidak Dia berjisim, tidak Dia merupakan suatu sifat yang baharu (bahkan Dia adalah Zat) dan tidak ada sakatan bagiNya (meliputi pada pihak atau tempat)…”

Cuba lihat Al-‘Usthaimin mentakwil secara batil dan mentajsimkan Allah Taala mempunyai dua mata sedangkan hadis ‘Mutasyabihat’ ini tidak menyatakan dua mata, hanya dalam hadis ini memberitahu ‘Tuhan Kamu Tidak Buta Mata sebelah’, maka diserahkan pengertiannya hanya kepada Allah bukannya mentakwil dan menafsirkan disebalik makna zahir nas. Inilah dinamakan tafsir atau takwil daripada zahir nas dengan tafsiran yang membawa kepada berjuzuk atau berjisim Allah Taala. Mahasuci Dia daripada apa-apa yang mereka sifatkan secara batil!!

Imam Arrazi dalam ‘Tafsir kabir’ menerangkan maksud ayat : “Bahkan kedua tanganNya dihamparkan, Dia menafkah sebagaimana yang dikehendakiNya.” [Surah Maidah:63] (sebagaimana ayat yang dibuat hujah oleh Al-‘Usthaimin di atas), berbunyi:
قال أبو الحسن الأشعري في بعض أقواله إن اليد صفة قآئمة بذاته تعالى وهى صفة غير القدرة من شأنه التكوين على الاصطفاء وفي روايةٍ فسر اليد بالنعمة والمعنى الجواد على الكمال فإن من أعطى بيديه فقد أعطى على أكمل الوجوه

Abu Hasan Asy ‘ari berkata pada sesetengah pendapat/perkataan yg dinukilkan daripada beliau: Bahawa ‘tangan’ adalah satu sifat yang ada pada zat Allah dan ianya selain sifat qudrat, kelakuannya (sifat ‘Yad/Tangan’ ini) menzahirkan terjadinya sesuatu atas pilihanNya. Sesetengah nukilan daripada Abu Hasan Asy ‘ari bahawa dia menafsirkan ‘Tangan’ dengan ‘Nikmat’, dan maknanya (Tangan itu) adalah makna Maha Pemurah di atas penuh kesempurnaan pemurah (yakni pada segi didatangkan dengan lafaz ‘Dua Tangan’ dalam ayat tersebut). Ini kerana (daripada sudut bahasa Arab) sesiapa yang memberi dengan dua tangannya maka sesungguhnya dia memberi di atas penuh kesempurnaan pemurah.”

Kenyataan beberapa golongan ‘Salaf’ dan para ulama yang mentakwil ayat ‘Mutasyabihat’

Di sini kami paparkan di antara takwilan/penafsiran segolongan para salaf dan para ulama mengenai ayat/hadis ‘Mutasyabihat’:

1) Imam Baihaqi menukilkan dalam kitab ‘Manaqib Imam Ahmad’ bahawa Imam Ahmad Hambal mentakwilkan ayat: وجاء ربك (AlFajr:22) bermaksud: “ Dan telah datang Tuhan engkau” , dengan makna: Telah datang pahala daripada Tuhan engkau.”

2) Imam Baihaqi menukilkan dalam kitab ‘AlAsma Wa Sifat’, m/s 309, bahawa Mujahid murid Ibn abbas mentakwilkan ayat:
 bermaksud: “ Mana-mana tempat yang berpaling فاينما تولوا فثم وجه الله
Kamu maka di sanalah ‘Wajah’ Allah.” dengan makna: “ Mana-mana tempat yang berpaling kamu maka di sanalah ‘Qiblat’ Allah.”

3)Imam Hanafi mentakwilkan hadis ‘Jariah/hamba’ yang mengisyaratkan ke langit apabila ditanya oleh Nabi : “ Dimanakah Allah?”, dengan bahawa makna isyarat tersebut menunjukkan pihak langit itu adalah ‘Qiblah/Arah Doa’, sebagaimana yang kami nukilkan di atas.

3) Imam Malik mentakwilkan hadis mutasyabihat ‘Nuzul/Turun’, sebagaimana yang dinukilkan oleh Azzarqani dalam Syarah ‘Muwattha’, m/s 35, jilid 2 (lihat juga Syarah Turmizi 2/236), berbunyi:
عن أبي بكر بن العربي أنه قال في حديث ” ينزل ربنا ” النزول راجع إلى أفعاله لا الى ذاته بل ذلك عبارة عن ملكه الذي ينزل بأمره ونهيه

Ertinya: “ Diriwayatkan daripada Abi Bakar Bin Arabi bahawa Imam Malik berkata pada hadis “ Tuhan kami turun ” : Lafaz ‘Nuzul/Turun’ ini kembali maknanya kepada sekalian perbuatanNya tidak kembali maknanya kepada zatNya, bahkan demikian itu dibuat ibarat percakapan kepada ‘MalaikatNya’ yang turun dengan suruhanNya dan laranganNya.”

4) Sufian Assthauri mentakwilkan ayat : وهو معكم (AlHadid;4) bermaksud: “ Dan Dia (Allah) bersama kamu.” Dengan katanya: علمه bererti: “ Dan Pengetahuan Allah berserta kamu (Dia mengetahui perihal kamu).” (lihat kitab ‘Asma Wa Sifat’ karangan Baihaqi, m/s 430).

5) Imam Bukhari mentakwilkan ayat : كل شيء هالك الا وجهه  
     bermaksud : “ Setiap sesuatu itu binasa kecuali ‘WajahNya’.” dengan katanya: الا ملكه ويقال الا ما أريد به وجه الله ertinya : “Setiap sesuatu itu binasa kecuali ‘KerajaanNya’, dan ditafsirkan juga dengan: “….kecuali perkara yang dikehendaki/diniatkan dengannya ‘Wajah/zat’ Allah.” (Lihat Sahih Bukhari: bab tafsir surah Qisas).

6) Imam Bukhari mentawilkan hadis ‘Dhahku/Ketawa’ Allah, sebagaimana yang dinukilkan oleh Khatthabi yang berkata:
وقد تأول البخاري الضحك في موضع آخر على معنى الرحمة وهو قريب وتأويله على معنى الرضا أقرب
Ertinya: “ Sesungguhnya Bukhari telah mentakwil ‘Dhahku/Ketawa’ Allah pada suatu nukilan yang lain dengan makna ‘Rahmat’ Allah. Menafsirkannya dengan makna ‘Ridha’ Allah adalah terlebih hampir tafsiran maknanya.” (lihat ‘Asma Wa Sifat m/s 470: Baihaqi dan Fathu Bari 6:40).

Banyak lagi pentakwilan/penafsiran daripada ulama salaf terhadap ayat/hadis ‘Mutasyabihat’. Memadailah di sini kami paparkan sebahagian bagi mereka yang hendak mengambil manfaat. Wallahu ‘Aklam…

Penyusun:
Nik Mohd Nazimuddin Bin Nik Ibrahim
Yang DiPertua ‘Khairu Ummah’.
12.7.2010M/29 Rejab 1431H

Allah Taala memaklumkan:


“Wahai orang-orang yang beriman! mahukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya? Iaitu, kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, serta kamu berjuang membela dan menegakkan agama Allah dengan harta benda dan diri kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu hendak mengetahui (hakikat yang sebenarnya); (dengan itu) Allah akan mengampunkan dosa-dosa kamu, dan memasukkan kamu ke dalam taman-taman yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, serta ditempatkan kamu di tempat-tempat tinggal yang baik dalam syurga "Adn ", itulah kemenangan yang besar. Dan ada lagi limpah kurnia yang kamu sukai, iaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang cepat (masa berlakunya), dan sampaikanlah berita yang mengembirakan itu kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff 61: 10-13)


Ayat ini memaklumkan fadilat seorang yang berjuang menggunakan diri dan harta mereka di jalan Allah ialah:
1. Keselamatan daripada azab neraka;
2. Keampunan ke atas dosa-dosa;
3. Dimasukkan ke dalam syurga;
4. Mendapat nusrah (pertolongan) Allah; dan
5. Mendapat kemenangan di dunia.


Menerusi ayat yang lain pula, Allah Taala menceritakan fadilat dan ganjaran bagi amalan infaq (membelanjakan harta pada jalan Allah):

“Bandingan (infaq) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi meliputi ilmu pengetahuanNya.” (Al-Baqarah 2: 261)


Fadilat membelanjakan harta pada jalan Allah seperti bersedekah dan berwakaf ialah:

1. Diberikan ganjaran paling minimum sebanyak 700 kali ganda;
2. Oleh kerana infaq itu diumpamakan sebagai benih, menunjukkan ia akan terus berkembang dan berpanjangan pahalanya; dan
3. Berpotensi untuk diberikan ganjaran berlipat ganda tanpa batas.
Ayat-ayat yang mengandungi fadilat yang sebeginilah yang telah menjadi satu tenaga dan jazbah keimanan yang telah menggerakkan generasi salafus-soleh yang terdahulu bersedia mengorbankan diri dan harta mereka di jalan Allah.


Imam Ibnu Kathir di dalam kitab tafsirnya telah menukilkan bahawa Ibnu Mas'ud r.a telah menceritakan, "Apabila turun ayat ini [Siapakah orangnya yang mahu memberikan pinjaman kepada Allah, sebagai pinjaman yang baik (ikhlas) supaya Allah melipat-gandakan balasannya?], berkatalah Abu Dahdaah Al-Ansari r.a, "Ya Rasulullah! Adakah Allah memerlukan 'pinjaman' daripada kami?", lalu dijawab oleh Rasulullah s.a.w., "Benar, wahai Abu Dahdaah!" Lalu Abu Dahdaah r.a. berkata, "Hulurkan tanganmu ya Rasulullah", lalu dicapainya tangan suci Rasulullah seraya berkata, "Sesungguhnya aku berikan 'pinjaman' kepada Tuhanku kebun saya ini!"

Abu Dahdaah r.a mempunyai kebun yang mengandungi 600 pokok tamar yang mana beliau dan keluarganya tinggal di situ. Lalu dia pergi kepada isterinya dan berkata, "Wahai isteriku Ummu Dahdaah, marilah keluar daripada sini, sesungguhnya aku telah memberikan kebun ini sebagai pinjaman kepada Tuhanku Azza Wa Jalla!"

Di dalam riwayat yang lain, berkata Ummu Dahdaah r.ha. kepadanya, "Beruntunglah perniagaanmu wahai Abu Dahdaah!" Abu Hurairah ra menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. telah membahagi-bagaikan kebun itu kepada beberapa orang anak yatim.

Semangat dan tahap keimanan sebegini, pada hakikatnya adalah dibentuk oleh gagasan Fadhail Amal yang telah diwarnakan oleh Allah melalui Kitab-Nya dan oleh Baginda Rasul s.a.w. melalui sunnah-sunnah Baginda!

Melihat secebis kepada fadilat infaq atau bersedekah ini, tidak tergerakkah hati kita untuk menyeluk saku kita dan menghulurkan infaq kita seikhlas, semampu dan sesegera yang mungkin? Tepuk dada, tanyalah iman!

Renungan:
Lebih-lebih lagi dalam bulan Ramadhan ini. Adalah diriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. sememangnya seorang yang sangat pemurah, tetapi apabila tibanya bulan Ramadhan, Rasulullah s.a.w. akan menjadi lebih pemurah. Ayuh kita tanamkan dalam hati kita keghairahan penuh keimanan dan keyakinan kepada janji-janji Allah, untuk memperbanyakkan sedekah. Kita berazam untuk tidak hanya menanti peluang bersedekah malah kita yang mencari peluang bersedekah. Semoga tidak ada hari yang berlalu, tanpa kita dapat bersedekah pada hari itu!

Dekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla..

Allah berfirman:

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa dekat (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.” ( Al-Baqarah 2: 186)



Imam At-Tobari membawakan di dalam kitab Tafsir Jamiul-Bayan, beberapa riwayat yang memperkatakan tentang sebab-sebab diturunkan ayat ini. Pelbagai riwayat ini menunjukkan ayat ini merupakan satu respons kepada pertanyaan mengenai di mana Allah, bilakah masa yang sesuai untuk berdoa dan bagaimanakah cara untuk berdoa? Lalu Allah s.w.t menurunkan firman-Nya ini untuk memberi tahu kepada hamba-hambaNya betapa Dia adalah sangat dekat dengan mereka.

Ayat ini seolah-olah memberikan satu gambaran untuk dinalar oleh seseorang yang benar-benar beriman bahawa dalam konteks doa, Allah s.w.t. adalah terlalu dekat dengan setiap seorang hambaNya. Penalaran ini perlulah polos yang lahir daripada fitrah hati nubari yang tulus. Hati akan amat memahami apa itu yang dikatakan ‘Sesungguhnya Aku sentiasa dekat.” Bahkan, dalam hadis Qudsi riwayat Muslim, Rasulullah s.a.w. menyatakan bahawa Allah s.w.t. berfirman, “... dan Aku bersamanya ketikamana dia berdoa kepada Ku!”

Imam Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi telah menyorot ayat ini dari segi roh susunan lafaz dan ibaratnya dan menyimpulkan, ayat ini telah difirmankan oleh Allah, menggunakan susunan kata yang paling mesra. Kata-kata yang menyentuh terus ke lubuk nubari hati seseorang yang mendengarnya. Kata-kata yang langsung hampir kepada hati orang yang disampaikan.

Kata Imam Asy-Sya’rawi, “Kita sekarang berhadapan dengan satu ayat yang terkandung di dalamnya soalan sedangkan jawapannya diberikan secara terus. (Apabila hambaKu bertanyakan engkau berkenaan Aku), maka Allah tidak menggunakan perkataan “فقل” (maka katakanlah wahai Muhammad), kerana firman “قل” ini adalah satu praktik yang menjauhkan rasa dekat, Allah mengkehendaki di sini untuk menjadikan rasa dekat dalam jawapan kepada soalan ini tanpa sebarang perantaraan: “Apabila hambaKu bertanyakan engkau berkenaan Aku; maka sesungguhnya Aku adalah amat dekat (kepada mereka)!” Sesungguhnya Allah telah menjadikan jawapan daripada-Nya kepada hamba-hambaNya secara langsung, walaupun sebenarnya orang yang akan menyampaikan jawapan tersebut ialah RasulNya s.a.w. Ini ada ceritanya, yakni: beberapa orang telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w, “Adakah Tuhan engkau ini dekat sehingga kami boleh berbisik kepada-Nya, atau pun Dia adalah jauh sehingga kami perlu menyeruNya?” Intaha.

Untuk mendapat perhatian Allah s.w.t. sehingga terhasilnya rasa “ma’iyyatulLah” merupakan satu kurniaan yang amat besar dan juga tujuan tertinggi mana-mana ibadah. Ihsan dengan makna beribadah mengabdikan diri kepada Allah seolah-olah kita dapat melihat Allah, menjelaskan bagaimana rasa dekat, syahdu dan mesra seorang hamba dalam mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. Ini merupakan fadilat yang merupakan seutama-utama fadilat!

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. telah bersabda, “ Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah berbanding doa.” (HR At-Tirmizi, beliau mengatakan hadis ini hasan gharib)

Doa kita mungkin dimakbulkan segera, dijadikan khazanah untuk akhirat nanti atau ditukar untuk menjadi sebab musibah dijauhkan; itu semua tidak mengapa! Semuanya itu untuk kebaikan kita. Namun itu semua tidak setanding dengan keasyikan, kemanisan dan keseronokan kita berdoa kepada Allah! Tidak sehebat kelazatan kita untuk dapat ‘hampir’ kepada Allah. Malah jauh lebih hebat daripada itu, kehampiran Allah kepada kita!

Bayangkan, apa yang terjadi kepada seseorang yang berdoa dengan kefahaman (minda) dan rasa (hati) sedemikian? Bukan sekali, bukan dua kali, bahkan berkali-kali dia akan berdoa dalam sehari?

Inilah cara manhaj fadhail a’maal membentuk generasi salafus-soleh terutamanya para Sahabat r.a. dahulu. Beramal dengan fokus yang betul. Beramal dengan penuh keimanan. Keimanan yang membara. Keimanan yang amat manis. Keimanan yang menyampaikan seseorang itu kepada Ihsan!